Jumat, 16 Januari 2009

FOTO POLOS ABDOMEN

BAB I
PENDAHULUAN

Pemeriksaan diagnostik radiologi telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama didalam penatalaksanaan klinis pasien di dalam pelayanan kesehatan. Sejak ditemukannya sinar X oleh Roentgen pada tahun 1895 dan kemudian diproduksinya peralatan radiografi pertama untuk penggunaan diagnostik klinis. Prinsip dasar dari radiografi tidak mengalami perubahan sama sekali, yaitu memproduksi suatu gambar pada film reseptor dengan sumber radiasi dari suatu berkas sinar-X yang mengalami absorbsi dan attenuasi ketika melalui berbagai organ atau bagian pada tubuh.1 
Perkembangan teknologi radiologi telah memberikan banyak sumbangan tidak hanya dalam perluasan wawasan ilmu dan kemampuan diagnostik radiologi, akan tetapi juga dalam proteksi radiasi pada pasien-pasien yang mengharuskan pemberian radiasi kepada pasen serendah mungkin sesuai dengan kebutuhan klinis merupakan aspek penting dalam pelayanan diagnostik radiologi yang perlu mendapat perhatian secara kontinu. Karena selama radiasi sinar-x menembus bahan/materi terjadi tumbukan foton dengan atom-atom bahan yang akan menimbulkan ionisasi didalam bahan tersebut, oleh karena sinar-x merupakan radiasi pengion, kejadian inilah yang memungkinkan timbulnya efek radiasi terhadap tubuh, baik yang bersifat non stokastik, stokastik maupun efek genetik.1
Dewasa ini penggunaan pemeriksaan radiologi semakin meningkat. Begitu juga dalam penggunaannya sebagai alat bantu diagnosa sekaligus terapi pada kelainan–kelainan traktus urinarius. Berbagai kelainan baik kongential maupun didapat dalam sistem ini dapat diperiksa dengan bantuan radiologi melalui beberapa macam pemeriksaan yaitu, Foto Polos Abdomen (FPA), Ultrasonografi (USG), IntraVenous Pyelography/Urografi IntraVena (IVP/UIV), Retrograde Pyelography (RPG), Antegrade Pyelography (APG), urografi retrograde, CT Scan, sampai Nuclear Magnetic Resonance. Dengan macam–macam pemeriksaan ini dapat diketahui adanya anomali ginjal, massa pada traktus urinarius, peradangan, dilatasi traktus urinarius, sampai pada penilaian fungsi ekskresi dan kerusakan struktur ginjal.2
Makalah ini akan mengkaji tentang Foto Polos Abdomen (FPA) terkait dengan penggunaannya sebagai alat bantu diagnosis penyakit pasien.




 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Abdomen
Abdomen atau lebih dikenal dengan perut berisi berbagai organ penting dalam sistem pencernaan, endokrin dan imunitas pada tubuh manusia. Dari gambar dibawah ini kita mengetahui bahwa ada 9 pembagian regio(daerah) di abdomen.3
 
Gambar 1. Abdomen
No Regio Organ yang Ada di Dalamnya
1 hypochondriaca kanan sebagian hati, kantung empedu dan bagian atas ginjal kanan
2 epigastrica ginjal kanan dan kiri, sebagian hati dan lambung serta sebagian kantung empedu 
3 hypochondriaca kiri limpa, sebagian lambung, bagian atas ginjal kiri, sebagian usus besar
4 lateralis kanan sebagian hati dan usus besar serta bagian bawah ginjal kanan 
5 umbilicalis sebagian besar usus halus, pankreas, ureter bagian atas, usus besar, serta bagian bawah kantung empedu
6 lateralis kiri sebagian kecil usus besar dan bagian bawah ginjal kiri
7 inguinalis kanan sebagian kecil usus besar
8 pubica usus buntu, sebagian usus halus dan usus besar, ureter kanan dan kiri, serta sebagian kantung kemih
9 inguinalis kiri sebagian kecil usus besar

No Regio Gangguan Khas di Abdomen
1 hypochondriaca kanan pembesaran hati, sirosis hati
2 epigastrica maag, pembesaran hati, batu empedu dan batu ginjal, pembesaran hati, serta sirosis hati
3 hypochondriaca kiri pembesaran limpa
4 lateralis kanan batu empedu, batu ginjal
5 umbilicalis ulkus usus halus 12 jari, kerusakan usus halus, batu ureter
6 lateralis kiri batu ginjal
7 inguinalis kanan hernia, hamil di luar rahim, usus buntu
8 pubica usus buntu (agak kekanan), hernia, batu ureter
9 inguinalis kiri hernia, hamil di luar rahim


B. Foto Polos Abdomen 
Foto Polos Abdomen menjadi salah satu alat bantu dalam mendiagnosis terjadinya gangguan pada abdomen. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Foto polos abdomen dapat dilakukan dalam 3 posisi, yaitu :4
1. Tiduran telentang (supine), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP).
2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar horizontal proyeksi AP.
3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal, proyeksi AP.
Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm.4

C. Penggunaan Foto Polos Abdomen 
1. Kolelitiasis (Gallbladder Stones)
Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar, di fleksura hepatika.5
 
Gambar 2. Foto polos pada kolelitiasis 6

2. Appendisitis Akut
Foto polos jarang bermanfaat kecuali terlihatnya fekalith opaque (5% pasien) didapatkan pada kuadran kanan bawah (terutama pada anak-anak). Sehingga, X-ray abdominal tidak rutin dilakukan kecuali terdapat keadaan lain seperti kemungkinan adanya obstruksi usus atau adanya batu ureter.7
3. Gagal Ginjal Akut
Foto polos abdomen, dengan tomography jika perlu, adalah teknik skrining awal pada pasien yang dicurigai mempunyai batu saluran kemih.8
4. Obstruksi ileus
Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran “step ladder” dan “air fluid level” pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi. Foto polos abdomen mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas 84% pada obstruksi kolon.9
Pada foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran “step ladder dan air fluid level” terutama pada obstruksi bagian distal. Pada kolon bisa saja tidak tampak gas. Jika terjadi stangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat gambaran berupa hilangnya mukosa yang reguler dan adanya gas dalam dinding usus. Udara bebas pada foto thoraks tegak menunjukkan adanya perforasi usus. Penggunaan kontras tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan peritonitis akibat adanya perforasi.10
5. Peritonitis
Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Sebelum terjadi peritonitis, jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain:
a. Posisi tidur, untuk melihat distribusi usus, preperitonial fat, ada tidaknya penjalaran. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi, penebalan dnding usus, gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance).
b. Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedang jika panjang – panjang kemungkinan gangguan di kolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level.
c. Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance.
Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial, air fluid level, dan herring bone appearance. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu:
a. Distensi usus general, dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang – kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum.
b. Air fluid level
c. Herring bone appearance
Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek – pendek (usus halus) dan panjang – panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Pada kasus peritonitis karena perdarahan, gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi).
Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum, pecahnya usus buntu atau karena sebab lain, tanda utama radiologi adalah :
a. Posisi tiduran, didapatkan preperitonial fat menghilang, psoas line menghilang, dan kekaburan pada cavum abdomen.
b. Posisi duduk atau berdiri, didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow).
c. Posisi LLD, didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. 
Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal.
 
BAB III
KESIMPULAN

Foto Polos Abdomen menjadi salah satu pemeriksaan radiologis yang merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Foto polos abdomen dapat dilakukan dalam 3 posisi, yaitu: Tiduran telentang (supine), Duduk atau setengah duduk, Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya.
 
DAFTAR PUSTAKA

1. Eddy Rumhadi Iskandar. 20087. Keselamatan Kerja Dalam Pelayanan Radiodiagnostik Di Laboratorium Radiologi Jurusan Teknik Radiodiagnostik Dan Radioterapi. Avaliable from: http://eddyrumhadi.blogdetik.com.
2. Staf Pengajar Sub-Bagian Radio Diagnostik, Bagian Radiologi, FKUI. 2000. Radiologi Diagnostik. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
3. Sekilas Tentang Abdomen. Avaliable from: http://andramenulis.wordpress.com 
4. Peritonitis. Avaliable from: http://3rr0rists.com/medical/peritonitis.html.
5. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. 570-579.
6. Yekeler E, Akyol Y. Cholelithiasis. Dalam: New England Journal of Medicine. Avaliable from: http://content.nejm.org/cgi/content/full/351/22/2318#F1.  
7. Acute Appendicitis" from Harrison's Principle of Internal Medicine 17th Ed, diterjemahkan oleh Husnul Mubarak. Avaliable from: http://cetrione.blogspot.com.
8. Gagal Ginjal Akut (Acute Renal Failure – Alih Bahasa, Harrison Principle of Internal Medicine 16th Edition). Avaliable from: http://cetrione.blogspot.com
9. Yates K. Bowel obstruction. In: Cameron P, Jelinek G, Kelly AM, Murray L, Brown AFT, Heyworth T, editors. Textbook of adult emergency medicine. 2nd ed. New York: Churchill Livingstone;2004. p.306-9.
10. Price, S.A. 2000. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Editor: Price, S.A., McCarty, L., Wilson. Editor terjemahan: Wijaya, Caroline. Jakarta: EGC,.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar